Teknik menggoreng menjadi metode memasak yang sering digunakan dalam berbagai jenis makanan. Dua teknik yang cukup populer adalah shallow fry dan deep fry. Walaupun sama-sama menggunakan minyak panas, kedua metode ini memiliki perbedaan dari segi jumlah minyak, proses memasak, hingga hasil akhir makanan.
Banyak orang mulai membandingkan shallow vs deep fry mana yang lebih sehat karena pola hidup sehat semakin diperhatikan. Pemilihan teknik memasak dapat memengaruhi kandungan minyak, tekstur makanan, serta nilai gizi yang dihasilkan. Oleh sebab itu, penting memahami perbedaan kedua teknik ini sebelum digunakan dalam proses memasak sehari-hari.
Mengenal Shallow Fry dan Deep Fry
Shallow fry adalah teknik menggoreng menggunakan sedikit minyak sehingga makanan tidak terendam sepenuhnya. Biasanya metode ini memakai wajan datar dan makanan perlu dibalik agar matang merata. Teknik shallow fry cocok digunakan untuk ikan, telur, atau daging tipis.
Sementara itu, deep fry merupakan teknik menggoreng dengan minyak dalam jumlah banyak hingga makanan terendam sepenuhnya. Metode ini sering digunakan untuk kentang goreng, ayam crispy, dan berbagai jenis camilan goreng karena dapat menghasilkan tekstur renyah secara merata.
Perbedaan penggunaan minyak membuat hasil masakan dari kedua teknik tersebut juga berbeda. Deep fry umumnya menghasilkan makanan lebih garing, sedangkan shallow fry memberikan tekstur yang lebih ringan.
Perbedaan Shallow Fry dan Deep Fry

1. Jumlah Minyak yang Digunakan
Perbedaan paling utama terletak pada jumlah minyak. Shallow fry menggunakan minyak lebih sedikit sehingga makanan hanya terkena sebagian permukaan minyak panas. Sebaliknya, deep fry membutuhkan minyak lebih banyak agar makanan dapat matang secara merata.
Penggunaan minyak yang lebih sedikit pada shallow fry membuat metode ini dianggap lebih hemat dan praktis untuk kebutuhan rumah tangga.
2. Tekstur dan Hasil Masakan
Deep fry menghasilkan tekstur makanan yang lebih renyah dan garing karena seluruh bagian makanan terkena panas minyak secara langsung. Teknik ini cocok digunakan untuk makanan berlapis tepung agar hasilnya crispy.
Di sisi lain, shallow fry menghasilkan tekstur yang tidak terlalu garing tetapi tetap memiliki bagian luar kecokelatan. Teknik ini cocok untuk makanan yang tidak membutuhkan lapisan renyah berlebihan.
3. Kandungan Minyak pada Makanan
Banyak orang menganggap deep fry membuat makanan lebih berminyak karena menggunakan minyak dalam jumlah besar. Namun, hasil akhir juga dipengaruhi suhu minyak dan proses penirisan setelah memasak.
Shallow fry sering dianggap lebih sehat karena penggunaan minyak lebih sedikit. Oleh sebab itu, metode ini menjadi pilihan bagi orang yang ingin mengurangi konsumsi minyak berlebih.
Mana yang Lebih Sehat?
Shallow Fry Lebih Rendah Minyak
Shallow fry umumnya lebih sehat karena makanan tidak sepenuhnya terendam minyak. Penggunaan minyak yang lebih sedikit dapat membantu mengurangi kadar lemak pada makanan.
Selain itu, proses memasak dengan shallow fry juga lebih sederhana dan mudah dilakukan di rumah tanpa membutuhkan banyak minyak goreng.
Deep Fry Tetap Memiliki Kelebihan
Meskipun sering dianggap kurang sehat, deep fry tetap memiliki keunggulan dalam menghasilkan makanan lebih renyah dan matang merata. Teknik ini juga lebih cepat digunakan untuk memasak dalam jumlah banyak.
Namun, konsumsi makanan deep fry sebaiknya tetap dibatasi agar tidak berlebihan. Pemilihan minyak berkualitas dan suhu yang tepat juga penting untuk menjaga kualitas makanan.
Informasi tambahan mengenai perbedaan teknik deep frying dan shallow frying dapat dibaca melalui perbedaan teknik deep frying dan shallow frying
Kesimpulan
Shallow fry dan deep fry memiliki perbedaan pada jumlah minyak, tekstur makanan, dan hasil akhir masakan. Shallow fry lebih cocok untuk makanan dengan kandungan minyak lebih rendah, sedangkan deep fry unggul dalam menghasilkan tekstur renyah dan matang merata.
Jika ingin memilih teknik yang lebih sehat, shallow fry dapat menjadi pilihan karena penggunaan minyak lebih sedikit. Namun, kedua teknik tetap bisa digunakan sesuai jenis makanan dan kebutuhan memasak masing-masing.



